30

Dulu aku menganggap datangnya umur 30 demikian menakutkan. Inilah dimulainya masa tua. Seolah ada jurang lebar dan dalam antara 29 dan 30. 29 seperti ngarai dan lembah subur yang dihiasi sungai dan pesawahan, sementara 30 seperti bukit terjal menuju puncak gunung yang kering.

Sepuluh tahun lalu, aku barangkali ada di lembah itu. Seorang muda di tahun pertama kuliah di Jogja. Mengambil jurusan Sastra Prancis, aku demikian terpikat dengan dunia sastra. Kemudaan menjadi lengkap dengan proses panjang perkenalan dan pacaran dengan perempuan terkasih yang sekarang menjadi istri. Di tahun-tahun itu pula, aku menemukan beberapa kawan baik yang terus saling menguatkan hingga sekarang.

Sepuluh tahun lebih awal lagi, aku seorang bocah sekolah dasar yang tergila-gila dengan sepakbola. Tidak ada cita-cita selain menjadi pemain sepakbola. Semua masih serba polos ketika itu. Tawa dan kemarahan silih-berganti tanpa batas tegas.

Tapi toh jalan hidup berkelok-kelok seperti sungai di ngarai dan lembah. Aku masuk SMP Pangudi Luhur dan berkenalan dengan Seminari Menengah Mertoyudan di tahun terakhir. Cita-cita menjadi pemain sepakbola kandas oleh keinginan menuruti rasa ingin tahu menjadi seorang romo. Empat tahun di Mertoyudan plus tiga bulan di Jangli, Semarang, cukup buatku untuk mengerti rasa ingin tahu itu tak pernah cukup.

Dari 20 ke 30, jalan semakin mendaki tentu saja. Keputusan menjadi seorang penulis, atau lebih khusus jurnalis, adalah sebuah keputusan besar yang berani dan yang pantas aku syukuri. Meski di sebuah koran lokal, dan Jawa Barat pula, aku banyak belajar. Keputusan menikah juga sebuah keberanian yang pantas dirayakan. Kehadiran Lanang apalagi.

Banyak rahmat di sepanjang lembah, dan ketika sampai di ujungnya, aku sadar, sama sekali tak ada jurang lebar dan dalam. Bukit itu memang ada. Puncak gunung yang tandus-kering terlihat di kejauhan. Tapi jurang itu tak pernah ada. Aku tak butuh takut melompat atau menyeberang.

Aku hanya butuh mempertahankan keberanian. Kali ini jalan setapak semakin terjal, tentu saja. Tak ada yang menyangkal itu. Bukit itu tinggi. Namun di balik tebing, ada banyak rahmat dan kebijakan yang bisa kupetik. Ada banyak pelajaran yang akan kuperoleh.

Di ngarai dan lembah, aku berjalan sendiri dengan beberapa kawan baik. Sekarang, mereka masih ada di sampingku. Tambah lagi dua orang tercinta, istri dan anak. Perjalanan di bukit terjal ini akan menantang tapi sekaligus menyenangkan.

Selamat ulang tahun ke-30 buat diriku. Bertambah beranilah.

2 Responses to 30

  1. selamat ulang tahun sobat..!!
    sudah cukup lama kau menjalani hidup ini. lebih lama dariku tentu saja hehe..
    tapi perjalanan masih panjang, tetap semangat, terus berkarya…
    Gusti Manunggala bro.

  2. Selamat Ulang Tahun Honey…..aku dan Lanang akan selalu ada disampingmu, saat melewati lembah yang hijau ataupun bukit terjal. We love you so much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s