Kebetulan

Lama tidak menulis di blog ini, mari memulai dengan sebuah peristiwa ‘kebetulan’ antara minat membacaku dengan sebuah novel berjudul “The Catcher in the Rye”.

Novel ini masuk ke kepala lewat berbagai peristiwa ‘kebetulan’ juga sebenarnya. Dalam “Lord of the Flies” yang sudah kubaca, ia disebut dalam pujian di sampul belakang. Dalam situs-situs yang kukunjungi untuk mencari referensi buku-buku bagus, novel ini nyaris selalu disebut dalam semua daftar ‘best books’ atau ‘best novels’. Dari situlah, “The Catcher in the Rye” nempel di kepala. Keinginan memiliki dan mengetahui isinya bertambah besar, meski tak ada waktu dan uang khusus kualokasikan untuk itu. Aku jauh lebih memprioritaskan buku-buku lokal yang bagus.

Tapi tiga hari lalu, seusai liputan di Balai Kota, tiba-tiba saja pengin mampir ke Reading Light, Babakan Siliwangi. Ketika itu masih siang. Sudah jarang aku ke toko buku bekas itu. Kalaupun ke sana, selalu pada petang. Tak pernah siang.

Di deretan rak, tak kutemui buku klasik yang menarik kecuali “Good Earth”-nya Bucks. Awalnya, aku cukup puas membawa pulang buku seharga Rp 35 ribu itu. Sambil membayar, ingin kutanyakan buku karangan Sallinger itu. Di toko itu, pengunjung bisa memesan buku incaran dengan menuliskannya di daftar pesanan. Aku mau menuliskan saja buku itu di sana, lalu ke kantor.

Tp waktu di kasir, seorang penjaga mendekati. Ia bertanya, buku-buku seperti apa yang aku cari. Aku jawab, novel klasik, terutama. Perempuan muda itu diam sejenak, sepertinya mengingat-ingat, lalu melontarkan pertanyaan yang bakal kuingat untuk waktu yang lama: kalau “The Catcher in the Rye”, mau?

Aku, tentu saja, segera mengiyakan. Senyum lebar terkembang ketika mendapatkan buku bersampul lukisan kuda warna merah itu. Harganya yang Rp 35 ribu menjadi kelihatan sangat murah. Apalagi mbak penjaga toko lantas bercerita betapa sulitnya menemukan buku itu. Sebenarnya, buku itu hak orang lain yang telah memesan lama. Namun saat dihubungi beberapa kali, tak ada jawaban. “Mas beruntung sekali,” katanya.

Sebuah ‘kebetulan’?

Barangkali tidak juga. Kesukaanku pada membaca, bukan kebetulan. Upaya-upaya mencari referensi di internet, bukan kebetulan. Keinginan mampir ke Reading Light juga pilihan. Aku bisa saja langsung ke kantor siang itu.

Peristiwa ini sama dengan lenyapnya dua beritaku tentang penolakan warga atas PLTSa di meja redaksi. Tidak ada kebetulan di sana. Hanya aku yang dibiarkan meraba-raba apa makna dan maksud semua ini.

Ya, meraba-raba. Karena buku di tanganku tak bisa bicara, karena orang-orang di balik meja itu tak mau bercerita.

Advertisement

4 Responses to Kebetulan

  1. ah, akhirnya terisi juga blog ini..
    rindu aku akan tulisanmu bro.. dan perbandinganmu akan sesuatu yang tak terpikirkan olehku.. monggo dilanjuut…

    • sunarsrengenge

      wah bro, thanks bro dah jadi penyokong setia. buntet ni liputan di kota. melelahkan secara pikiran hehehe …
      gimana kabar keluarga? sehat to?
      setiap akhir pekan aku selalu k jakarta bro. siapa tau bisa bertemu.

  2. Setuju aku Pak Eko….mudah2an Bapaknya Lanang ini bisa terus meluangkan waktu.
    Oya, kami sudah tinggal di jakarta lho Pak, daerah lebak bulus..kapan2 mampirlah.

  3. Eh, wis ora neng mburi sentra mulia to? Lebak bulus e cedhak ro staff house ndhisik kah?
    Ok2, nek ono wektu mesthi tak sempatke tilik Lanang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s