Tak Takut Konflik

Ada-ada negaraku ini. Di usianya yang sudah kakek, atau malah mungkin buyut, 65 tahun, tetap saja ia jadi penakut. Uban yang berserak di kepala tak mampu membuatnya tampil gagah, disegani, dihormati. Ia justru makin bongkok, makin lumpuh. Selalu tunduk.

Ada-ada negaraku ini. Nelayan negeri tetangga jelas-jelas mencuri ikan di halaman, mau-maunya ia menukar mereka begitu saja dengan petugas yang ditangkap di daerah kekuasaan sendiri. Ah, petugas yang lemah, kalah senjata, dan sudah berbuat berani mempertahankan jengkal tanah. Ketidakberdayaan seperti ini terjadi di mana-mana.

Alasan barter itu macam-macam. Muaranya: kita negara yang cinta damai yang mestinya mengusahakan perdamaian dengan semua negara tetangga. Lagi pula, hubungan selama ini sudah merupakan simbiosis mutualisme, seperti kerbau dan jalak kalau dalam pelajaran-pelajaran sekolah dasar dulu. Tapi siapa kerbau, siapa jalak? Lantas siapa kutu-kutu atau serangga yang ada di punggung kerbau?

Bebas aktif kata orang-orang. Entah apa arti istilah itu. Sejauh mana bebasnya, seperti apa aktifnya.

Aku, sebagai seorang muda, sangat ingin memiliki negara yang kuat, yang kokoh. Yang bisa berdiri gagah di depan semua negara. Yang tak takut berkonflik.

‘Tak takut konflik’ itu kata yang amat mengesan. Aku mendapatkannya 11 tahun lalu, dalam secarik kertas yang diberikan Boi, teman seangkatan di Seminari.

Secarik kertas itu bernama correctio fraterna. Arti harafiahnya: koreksi dalam persaudaraan, kritik yang memperbaiki. Itu tradisi tahunan di Seminari. Setiap orang menulis daftar teman dekat dan teman jauh. Untuk setiap orang, dicantumkan segi-segi yang dinilai positif dan negatif yang terlihat. Kertas itu lantas diberikan pada yang bersangkutan.

Boi ketika itu mencantumkanku dalam daftar teman dekatnya. Dan begitulah kami hingga hari ini. Kami tak banyak berbicara memang. Tapi kedekatan itu meresap amat dalam. Sudah ada sebegitu adanya. Di mana pun. Dalam situasi apa pun. Aku merasa dekat.

“Kekuranganmu paling mencolok adalah ketidakberanian berkonflik, Boy (ia memanggilku Boy juga). Karena tidak semua konflik itu buruk. Makanya, ayo sesekali berkonflik denganku!” begitu kira-kira tulisnya. Kertas itu, sayangnya, telah hilang dari arsipku.

Tahun ke tahun, kurasai kalimat kawanku itu benar adanya. Berkonflik kadang membawa kita ke level lebih atas. Tak biasa-biasa saja, tak monoton, tak berpura-pura semua baik-baik.

Sesekali mari berkonflik! Negaraku yang kucintai, sesekali berkonfliklah secara berani. Bukan congkak. Bangunkan kebanggaan wargamu ini. Biar tak selamanya berpura-pura seolah semua baik. Biar tak jadi pemalas yang penakut.

One Response to Tak Takut Konflik

  1. setiap merayakan hari kemerdekaan aku selalu ingat kakekku bro.. beliau dulu ikut pangsar Sudirman bergerilya.. ikut juga merebut Jogja di bawah pimpinan Sri Sultan HB IX.. tapi aku menjadi sedih, jika kembali dihadapkan pada pengurus negara yang tidak tahu terima kasih ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s