Tak Ada SMS di Kebonwaru

Kemarin, hari terakhir UN, aku meliput di Rumah Tahanan Kebonwaru. Ada seorang anak SMK di sana, mengerjakan soal-soal. Mendengar ceritanya, aku teringat, dan lantas menertawai, karut marut pelaksanaan UN tahun ini. Dan juga tahun-tahun sebelumnya. Dan tahun-tahun yang akan datang jika sistem tak juga diubah. Maka demikianlah aku menulis untuk koranku:

Tak Ada SMS di Kebonwaru

Saat tak sedikit siswa SMA/SMK ramai-ramai menggadaikan kejujuran mereka dengan menyalin SMS kunci jawaban Ujian Nasional (UN), GJK (18) sendirian menekuni soal-soal UN sejak hari pertama di balik tembok Rumah Tahanan Kebonwaru, Bandung. Ia benar-benar sendirian di sana. Tak ada telefon genggam, jadi tak ada SMS kunci jawaban.

Sudah empat bulan ini, Joy, demikian siswa salah satu SMA swasta di kawasan Ciumbuleuit ini biasa dipanggil, menempati salah satu sel rutan kelas satu di Jalan Jakarta tersebut. Ketika itu, ia belum sempat mengikuti try-out atau latihan lain bersama teman-teman sekelasnya untuk menghadapi UN. “Saya benar-benar mempersiapkan semuanya sendiri. Mau dengan siapa lagi?” ujarnya, Jumat (26/3).

Sekolah menyokong Joy dengan mengirimkan buku-buku pelajaran, termasuk materi try-out. Orang tua dan kerabat juga melakukan hal yang sama. Buku-buku secara rutin mereka berikan saat berkunjung. Joy, kelahiran Manado. Bapak-ibunya tinggal di Tangerang. Di Bandung, ia tinggal bersama bibinya.

Menurut M. Taufik Hidayat, guru pendidikan kewarganegaraan di sekolah Joy, Joy termasuk murid yang pintar. Oleh karena itulah, sekolah mendorongnya untuk ikut UN tahun ini juga. “Kami sebisa mungkin membantu. Apalagi orang tua siswa tersebut juga mendukung,” katanya.

Joy sendiri merasa optimistis dengan pekerjaannya. Persiapan yang ia lakukan sendiri di dalam selnya selama empat bulan belakangan, ia rasa tak terlalu buruk hasilnya. “Matematika dan bahasa Inggris yang sedikit susah. Namun saya rasa saya bisa mengerjakannya,” kata siswa jurusan IPS tersebut.

Di Kebonwaru, Joy diberi ruang perpustakaan sebagai ruang ujiannya. Tidak ada peserta lain. Di ruang itu, ia ditemani seorang panitia penyelenggara UN dari sekolahnya dan dua pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. “Ujian berlangsung lancar. Fasilitas yang diberikan rutan juga amat mendukung,” ucap Rohandi, salah seorang pengawas yang berasal dari SMAN 2 Bandung.

Kepala Rutan Kebonwaru Suharman mengungkapkan, merupakan hak Joy untuk mengikuti UN. Tidak ada alasan untuk melarangnya. “UN ini kan menyangkut masa depan anak. Sebisa mungkin kami membantu dengan menyediakan fasilitas ruangan yang layak dan suasana tenang,” katanya.

Menurut Taufik, masa depan siswa itulah yang menjadi perhatian utama sekolah dalam memberikan dukungan. “Kami memikirkan masa depannya. Keadaan yang sekarang barangkali bukan yang terbaik bagi semua orang, tetapi kami berusaha peduli terhadap masa depannya,” katanya.

Pukul 10.00 WIB, Joy menyelesaikan jawabannya. Ia segera melepaskan seragam putih abu-abu yang hanya ia kenakan selama ujian berlangsung. Mengenakan celana pendek dan kaos putih tanpa lengan, ia berjalan kembali menuju selnya. Di sana, ia akan menunggu hari kebebasannya akhir April nanti.

“Saya banyak berpikir selama di penjara ini. Semoga saya lulus UN agar bisa kuliah,” katanya sesaat sebelum melangkah meninggalkan ruangan ujian. Kedua mata Joy menatap ke depan. Ia sepatutnya bangga telah menaruh harapan pada kemampuannya sendiri, bukan pada SMS-SMS yang berdatangan entah dari mana. (Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR”)***

4 Responses to Tak Ada SMS di Kebonwaru

  1. tulisan ini menamparku bro, sangat keras..
    aku pernah menjadi salah satu dari siswa yang menggadaikan kejujuran itu. dan di sini aku mengaku…

  2. haha… wah konangan kowe bro.. hehe.. tapi masa lalu bukan vonis mati buat manusia. aku percaya, kamu belajar banyak. sama seperti joy bakal belajar banyak dari kesalahan yang membuatnya ke penjara.
    semua orang pernah berbuat salah bro. aku juga. banyak malah. tapi yang terpenting, apa usaha kita setelah itu…
    salut buatmu bro. maju terus. paskah pulang? ayo kompetisi na cawas haha…

  3. setuju atas itu.. tapi aku ada pengalaman di mana masa lalu hampir menjadi vonis mati bagiku.. untung baru hampir..
    tentu aku pulang. tapi tidak memungkinkan untuk ke cawas bro, sayang sekali…

  4. kok sepi bro?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s