Di luar 25 Milyar

Ketika semua orang sibuk meributkan uang Rp 25 milyar di rekening salah satu PNS Golongan III di Direktorat Jendral Pajak, aku dipertemukan dengan seorang Satpam di sebuah SMK Negeri di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, tempat aku meliput Ujian Nasional pagi tadi. Baru tiga hari ia masuk sebagai pegawai kontrak. Gajinya 600 ribu per bulan.

Di sekolah itu ada empat satpam, termasuk dirinya. Penjagaan mesti dilakukan 24 jam. Satpam baru itu sendiri rumahnya ada di Tanjung Sari, dekat Jatinangor sana. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu jam.

Sebelum bekerja di sini, ia mengaku sudah bekerja 3,5 tahun di sebuah Dinas Provinsi. Awal tahun ini dia dipecat sebagai pegawai honorer. Pesangonnya Rp 1 juta saja. Tak sampai Rp 25 milyar. “Saya tak habis pikir. Dalam kampanyenya dulu Gubernur bilang mau membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Saya masih ingat itu. Makanya saya pilih dia,” katanya saat menemaniku menunggu anak-anak SMK itu keluar kelas.

Tahu aku wartawan, dia bercerita bahwa seminggu setelah pemecatan itu, ia mengirim ke sebuah koran lokal segala kekecewaannya dalam bentuk tulisan agar dimuat. Ia beli koran itu seminggu berturut-turut, tapi tak muncul juga. Lalu ditanyakanlah kemungkinan koranku memuatnya. Aku jawab, sangat mungkin.

(Dalam hati aku bilang: pasti dimuat. Lha wong redakturnya beberapa minggu terakhir getol meminta wartawan ikut menulis di Surat Pembaca. ini karena kurangnya surat dari pembaca yang masuk!!!)

Kuberi bapak satpam itu alamat lengkap. Kuminta ia menulis.

Aku harap ia benar-benar menulis, dan koranku memuatnya, dan pejabat-pejabat tergerak hatinya setelah membacanya. Aku sejatinya tak terlampau senang mendengar koran memberondong rakyat dengan berita tentang uang dalam jumlah besar yang tak pernah mereka tahu bentuknya seperti apa. Aku lebih senang koran bicara apa yang dimengerti rakyat kebanyakan.

Dengan Rp 600 ribu sebulan, bagaimana orang bisa hidup di Kota Bandung ini?

Siang tadi, setelah mewawancari beberapa siswa SMK, aku pergi meninggalkan Satpam 40-an tahun itu di posnya. Di depannya ada sebungkus kopi instan yang hendak ia tuang ke gelas. Kantuknya tak tertahankan setelah berjaga semalam-malaman.

One Response to Di luar 25 Milyar

  1. aku lebih senang lagi dengan koran yang memberondong pembacanya dengan uang dalam jumlah besar, bukan cuma beritanya hehe..
    itulah hidup bro, 600ribu sebulannya dengan 600ribu sebulanmu mungkin sangat berbeda :)
    coba kalau ada waktu tanyakanlah padanya bagaimana caranya hidup dengan 600ribu per bulan, karena kalau tidak bisa, otomatis dia berhenti dari pekerjaannya dan mencari pendapatan yang lebih dari itu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s